Inilah Dokter yang Tidak Setuju #IndonesiaTerserah

Beberapa hari lalu Indonesia dihebohkan “taggar” Indonesia terserah yang konon disebarluaskan oleh dokter dan paramedis yang sudah merasa dongkol dengan masyarakat yang tak jua takut dengan kematian akibat pneumonia yang dipicu virus corona yang sudah mematikan lebih 1000 orang.

Ada pula penyanyi rap yang membuat lagu dengan tema “Indonesia Terserah” yang semakin membuat viral istilah ini, kurang jelas yang mana duluan lagunya atau “taggarnya” yang jelas terkesan semua dokter dan paramedis sudah menyerah, akibat:

  1. Rakyat yang tidak mengerti dan peduli
  2. Pemerintah yang kurang tegas dan “keras” terhadap rakyat yang kurang peduli dan kurang mengerti
  3. Tenaga medis dan paramedis kecewa point 1 atau point 1 dan 2
  4. Namun dua hari terakhir, ada pula viral video seorang dokter muda Laura Puspita Sihombing yang bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta yang sering bertemu pasien dalam
  5. pengawasan (PDP) atau pasti corona (confirm) yang intinya mengajak masyarakat jangan terserah, jangan menyerah dan ujung-ujungnya jangan mudik.

Jadi minimal ada 2 dokter yang tidak setuju taggar itu, yaitu yang di video atas dan saya.

Apakah dokter dan paramedis Indonesia sekarang sudah terpecah dua dalam memerangi corona? Saya pastikan tidak, mereka semua siap tugas sesuai dengan jadwal jaganya masing-masing karena Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) sudah mengeluarkan surat edaran bahwa semua dokter dari dokter umum sampai subspesialis harus mempunyai kompetensi pengetahuan dan penatalaksanaan virus corona.

Itu artinya, dokter umum yang baru tamat sebulan dua bulan ataupun dokter radiologi yang jarang memegang pasien, semuanya harus belajar tentang wabah ini dengan modul-modul yang sudah dibagikan dan sewaktu-waktu kalau dokter spesialis paru atau spesialis penyakit dalam atau dokter anak yang terbiasa menangani infeksi tidak ada karena sesuatu dan lain hal, mereka akan melaksanakan tugas.

Intinya, tidak boleh ada dokter yang menolak menangani pasien corona dengan alasan tidak tahu, banyak seminar melalui media “online” sudah dilakukan sejak bulan Maret 2020 dan beberapa protokol sudah disebar.

Dokter juga tidak boleh melalaikan tugasnya, jadwal dinasnya kalau fisik dan jiwanya sehat. Jadi kalau tidak mau bertugas, harus dibuktikan kalau dia sedang sakit fisik atau jiwanya, misalnya depresi, stress berlebihan atau ansietas. Kalau meninggalkan tugas dalam waktu tertentu malah dapat dianggap seperti “desersi” di dunia militer yang dapat menerima hukuman.
Kalau boleh memberi gambaran, # Indonesia terserah adalah cara memperingatkan rakyat dan/atau pemerintah dengan keras bahwa konsekuensi yang mungkin terjadi kalau masyarakat tetap ramai ke pasar setelah dapat tunjangan hari raya dan tetap kucing-kucingan mudik, maka kasus corona di Indonesia akan meningkat tajam sampai-sampai kemampuan rumah sakit tidak cukup lagi.

Di saat itulah kami harus memilih pasien mana yang harus dirawat atau pasien mana yang tidak dapat dirawat dan disuruh pulang saja, menunggu muzizat dari Tuhan.

Beberapa kriteria saat pasien disuruh pulang saja atau mencari rumah sakit lain:

  1. Rumah sakit sudah penuh.
  2. Rumah sakit mungkin belum penuh tetapi tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit itu tidak cukup melayani pasien lagi. Misalnya perawat 1 hanya dapat merawat 3 pasien dalam satu giliran jaga, sementara hanya ada 30 perawat, untuk 1 hari dengan 3 “shift” hanya dapat merawat 30 pasien. Untuk ruangan Intensive Care Unit (ICU) malah 1 perawat harus melayani 1 pasien.
  3. Kondisi pasien sudah “terminal”, misalnya tekanan darahnya sudah dibawah 70 mmHg atau kelarutan oksigen (saturasi O2) si pasien sudah dibawah 80% sementara ventilator di rumah sakit terpakai semua atau usia pasien diatas 70 tahun dan napasnya sudah satu-satu.
  4. Kondisi Instalasi Gawat Darurat (IGD) sudah sangat “crowded”, misalnya di saat bersamaan jam 7 pagi ada 20 pasien datang dan semuanya gawat sementara tempat tidur di IGD dengan oksigen hanya ada 15, maka 5 pasien akan disuruh pulang atau pindah.

Sementara itu # Indonesia jangan terserah adalah cara membujuk masyarakat dan/atau pemerintah lebih memperhatikan corona ini tetapi tetap menekankan bahwa dokter dan paramedis tetap mau melayani. Intinya, kedua “taggar” maksudnya sama walau cara pendekatannya berbeda.

Apakah ada nuansa politis? Hanya politikus yang tahu, kalau tenaga kesehatan khususnya dokter ada sumpah yang melarang diskriminasi dan harus selalu fokus kepada profesi, kecuali kalau dokter itu sudah ikut terdaftar partai tertentu mungkin dia terkadang bingung mau berbicara sebagai kader atau sebagai profesional.

Saya pribadi menjamin dalam gemblengan bertahun-tahun kuliah, semua dokter dan perawat memiliki cita-cita luhur ingin menyelamatkan nyawa sesamanya, metode pendekatan edukasi di media sosial mungkin berbeda tetapi tujuannya satu mengingatkan masyarakat dan pemerintah bahwa sesiap-siapnya kami di rumah sakit menerima kasus covid-19, ada batas yang tidak mungkin dilewati dan saat batas itu sudah tembus maka bukan soal  #terserah atau # jangan terserah lagi tetapi soal akankah ada “the new normal” atau “the persistent abnormal” yang mungkin hanya bisa diramal “the new paranormal” yang belum terciduk memakai psikotropika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *